Pentingnya Peran Pemuda Hindu dalam Meningkatkan Eksistensi Hindu
Umat
sedharma yang berbahagia, pada kesempatan ini perkenankanlah saya untuk
menyampaikan pesan Dharma yang berkaitan dengan “PERAN PEMUDA HINDU DALAM MENINGKATKAN EKSISTENSI HINDU” .
Dewasa ini banyak pemuda yang terlibat tawuran, seks bebas, merokok, berjudi.
Perilaku
remaja saat ini cenderung mendekati perilaku yang negatif tidak memungkiri
karena semakin berkembangnya era globalisasi gaya hidup dan perilaku remaja
saat ini, di dalam sebuah pergaulan remaja indonesia sudah tercampur dengan
gaya pergaulan dari luar, alhasil banyak kebudayaan indonesia tidak menjadi
tradisi di kalangan remaja, perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak di
tujukan oleh seseorang sehingga dapat di sebutan dengan sesuatu tindakan sosial
yang amat mendasar oleh sebagian manusia, tindakan manusia tidak sama dengan
perilaku sosial karna perilaku manusia adalah perilaku yang khusus di
tunjukan oleh manusia.
Kalau hal
ini terus dibiarkan maka kesadaran beragama akan semakin berkurang, lalu jika
hal ini terjadi maka bukan tidak mungkin kalau suatu saat nanti anak cucu kita
tidak lagi mengenal dan menganut agama Hindu, dan Hindu tidak lagi eksis. Lalu
muncul pertanyaan, bagaimana cara untuk meningkatkan eksistensi Hindu ?
Eksis adalah
upaya untuk dikenal di dalam ruang lingkup masyarakat Ada 3 cara untuk
meningkatkan ke-eksisan Hindu, yaitu :
1. BERDOA
DAN BERBHAKTI
Para remaja
di masa kini sering melupakan Tuhan. Kita jarang melakukan Tri Sandya, Krmaning
Sembah, berjapa, dan melakukan krtanam. Jangankan hal itu, untuk bersyukur di
pagi hari saat kita baru bangun saja jarang dilakukan, padahal Hyang Widhi
berkata di dalam Bhagavad Gita, II.22 :
Ananyas cintayanto mam
Ye janah parsupasate
Tesam nityabhiyuktanam
Yogaksemam wahamyaham
Artinya :
Mereka yang hanya memujaku saja, tanpa
memikirkan yang lainnya lagi. Kepada mereka Kubawakan segaa apa yang mereka
tidak punya dan kulindungi segala apa yang mereka miliki.
Tuhan saja
telah berjanji demikian kepada para bhakta Nya, lalu kenapa kita masih
mengacuhkan nya ? Kita juga harus melalukan tindakan Dharma atau Sad Dharma,
yaitu
1. Dharma
Wacana
2. Dharma
Gita
3. Dharma
Tula
4. Dharma
Yatra
5. Dharma
Widya
6. Dharma
Santi
Selain itu kita juga harus berbhakti kepada orang tua kita. Orang tua kita
adalah orang yang telah membuat kita hidup di dunia, jadi kita harus berbhakti
kepada mereka dengan tulus ikhlas.
2. BELAJAR
Saat ini kita masih dalam masa Brahmacari, yaitu masa menuntut ilmu. Di
masa ini kita harus menimba ilmu sebanyak-banyak nya. Ilmu yang dapat kita
pelajari tidak hanya ilmu eksakta dan ilmu sosial, tetapi kita juga dapat
belajar tentang ilmu kesenian, dan cara berorganisasi. Dengan mengikuti
kegiatan organisasi, kita juga dapat melatih kepemimpinan kita karna disuatu
saat nanti kita adalah cikal bakal pemimpin Hindu di Indonesia. Kita juga harus
menyeimbangkan semua ilmu tersebut dengan ilmu agama, karna dengan ilmu agama
itulah kita dapat tuntunan di jalan Dharma.
Di dalam Bhagavad Gita.IV.36 berbunyi :
Api ced asi papebhyah
Sarwebhyah papakrttamah
Sarwam jnanaplawenai’wa
Wrjinam samtarisyasi
Artinya :
Walaupun seandainya engkau adalah orang
paling berdosa diantara orang yang memikul dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan
ini engkau akan mampu mengarungi lautan dosa.
Brahmacari adalah
masa hidup setiap umatnya yang digunakan untuk menuntut ilmu. Mengisi diri
menuju kedewasaa rohani supaya kedewasaan rohani dan jasmani berkembang sejalan
dan seimbang.
Namun
seiring perkembangan zaman, kedewasaan baik rohani maupun jasmani sudah tidak
sejalan dan seimbang. Hal itu dikarenakan beberapa faktor salah satunya adalah
perkembangan IPTEK yang sangat mempengaruhi kehidupan seorang khususnya remaja
yang dalam hal ini sangat erat kaitannya dengan masa Brahmacari.
Pentingnya Brahmacari Ashrama, disebutkan dalam Atharvaveda
sebagai berikut :
“Brahmacaryena tapasa, raja rastram vi
raksati, acaryo brahmacaryena, Brahmacarinam icchate” (XI.5.17). “Sa dadhara
prthivim divam ca” (XI.5.1). “Tasmin devah sammanaso bha vanti” (XI.5.1)”.
Artinya : “Seorang pemimpin dengan
mengutamakan Brahmacari dapat melindungi
rakyatnya, dan seorang guru yang melaksanakan Brahmacari menjadikan
siswanya orang yang sempurna; Seseorang yang melaksanka Brahmacari akan menjadi penopang kekuatan dunia;
Tuhan (Hyang Widhi) bersemayam pada diri seorang Brahmacari.”
Dari kutipan Veda itu jelaslah kiranya bahwa kewajiban manusia yang utama
dan yang pertama dilakukan adalah menuntut ilmu atau belajar dan berpendidikan.
Pelajaran dan pendidikan juga akan membangun kemampuan berpikir untuk memilah
antara dharma (perbuatan baik) dan adharma (perbuatan tidak baik) sehingga
manusia dapat mencapai kesempurnaan hidup.
Kitab suci Sarasamusccaya 2 :
“Manusah sarvabhutesu varttate vai
subhasubhe, asubhesu samavistam subhesvevavakarayet.”
Artinya : “Diantara semua mahluk hidup, hanya
yang dilahirkan sebagai manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik
ataupun buruk, leburlah kedalam perbuatan baik segala yang buruk itu;
demikianlah pahalanya menjadi manusia. “Dalam Upanisad disebutkan pula bahwa
arti kata Manusah adalah : Manu =
kebijaksanaan, sah = mempunyai. Jadi manusia
adalah mahluk yang mempunyai kebijaksanan. Kebijaksanaan diperoleh dari tiga
kemampuan kodrati manusia yaitu Sabda (kemampuan
berbicara), Bayu (kemampuan bergerak)
dan Idep (kemampuan berpikir). “Idep” yang dituntun oleh ajaran agama dan ilmu
pengetahuan akan menjadikan manusia itu lebih bijaksana sehingga disebut
sebagai manusia yang sempurna. Mahluk lain seperti binatang hanya mempunyai dua
kemampuan saja yaitu kemampuan bergerak (bayu) dan
kemampuan bersuara (sabda). Binatang
tidak mempunyai kemampuan berpikir (idep) oleh
karena itu binatang beraktivitas berdasarkan naluri, tidak berdasarkan pikiran.
Tumbuh-tumbuhan hanya mempunyai kemampuan tumbuh (bayu) saja, tidak mempunyai sabda dan idep.
Di saat
seeorang berada pada masa Brahmacari, hatinya
mesti lebih terdorong untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya sesuai dengan
slogan “ Masa muda adalah masa belajar dan berjuang”. Bukanya masa muda
digunakan untuk bersenang-senang dan hura-hura. Seperti kata pepatah para
pemuda merupakan tulang punggung Negara. Mereka hendanknya mampu membuat
sejarah dan mampu membuat perubahan zaman.
Setiap orang
hendaknya berusaha untuk dapat melewati masa Brahmacari dengan
mencapai sasaran atau cita-citanya. Dalam naskah Silakrama dijelaskan sebagai berikut:
“Brahmacari ngarannya sang sedeng marga
bhyasa sang hyang sastra, wangwang sang wruh ring tingkah sang hyang aksara,
Sang mangkana karamanya sang Brahmacari ngaranya (Silakrama hal 8)”
Artinya: Brahmacari hanya bagi orang yang menuntut
ilmu pengetahuan dan yang mengetahui perihal ilmu (huruf aksara) yang demikian
itu disebut dengan Brahmacari.
Uraian Silakrama diatas dengan jelas menyatakan bahwa
masa Brahmacari itu adalah masa menuntut ilmu, yakni
masa belajar dan berjuang, mengisi diri menuju peringkat hidup yang lebih baik,
dalam usaha menghilangkan kegelapan menuju kecerdasaan. Terutama pada era globalisasi
seperti saat ini dimana perkembangan iptek sangat pesat dan didalam mempelajari
dan menguasai iptek hendaknya berpedoman pada agama. Hal tersebut senada dengan
ucapan seorang sarjana barat yang bernama Albert Einstein, yaitu ilmu tanpa
agama itu buta dan agama tanpa ilmu itu lumpuh. Makadari itu pada masa Brahmacari sebaiknya kita menuntut ilmu
setinggi-tingginya agar dapat membuat perilaku dan sikap moral serta
mengembangkan jiwa budi luhur.
3. BEKERJA
KERAS
Untuk mencapai sebuah hasil yang memuaskan, tentunya kita membutuhkan kerja
keras. Dengan kerja keras yang maksimal maka maksimal pula hasil yang kita
dapatkan. Di dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang menceritakan
kisah seorang anak kecil bernama Lintang yang hidup di pedalaman Sumatra
tepatnya di Belitong. Lintang ini sangat gigih untuk menimba ilmu disekolah
yang dapat dikatakan sudah tidak layak pakai. Dia tidak memperdulikan sulitnya
akses untuk mencapai sekolahnya, tak jarang Lintang bertemu dengan kawanan
buaya yang sedang berjemur.
Umat sedharma yang berbahagia, anak kecil yang hidup di pedalaman saja
bisa, tetapi kenapa kita yang hidup di kota tidak ? Fasilitas yang ada di
pedalaman sangat tidak memadai tetapi Lintang bisa, lalu kenapa kita yang sudah
diberikan fasilitas dan kemudahan oleh orang tua kita tidak bisa? Ayo
kawan-kawan pemuda dan pemudi Hindu, kita gali potensi dalam diri kita. Kita
tunjukan kalau diri kita mampu, dan kita harus tunjukkan kalau masyarakat Hindu
itu hebat dan penuh akan SDM yang berprestasi.
Demikian pesan Dharma yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi
umat se-Dharma sekalian. Jika terdapat salah ucap saya mohon maaf, dan kepada
Brahman saya mohon ampun.
Dan saya
akhiri dengan mengucapkan doa….
Om asato ma sat gamaya
Tamasyo ma jyotir gamaya
Mrtyor mam amrtam gamaya
Loka samasta sukino bhavantu 3x
Om Shanti Shanti Shanti Om

Komentar
Posting Komentar