Arjuna digital: Umat Hindu Dan Ajeg Bali Di Era Globalisasi
Arjuna digital: Umat Hindu Dan Ajeg Bali Di Era Globalisasi
Dharma adalah prinsip kebenaran
universal dan kebenaran hukum alam abadi. Dharma adalah hukum universal yang
dapat ditemukan melalui penyelidikan objektif. Sebagai contoh, dharma sebagai
sifat api suci; seseorang tidak bisa membayangkan api yang tidak membakar;
dalam sifat ini dharma akan selalu membakar atau memusnahkan adharma.
Dharmaitu sendiri memiliki
prinsip-prinsip etika dan spiritual antara lain: dasar-dasar Yoga seperti:
tidak menyakiti (ahimsa), kebenaran (satya) pengendalian diri (tapa), serta
etika dan kewajiban manusia yang diulas dalam Yama dan Niyama-brata.
Prinsip dharma yang lain adalah hukum
karma-phala, yakni buah dari segala perbuatan yang pasti akan diterima kembali
oleh manusia baik di masa kini, di kehidupan kemudian, dan di dunia niskala. Dengan
berpegang pada hukum karma-phala manusia dibimbing untuk berbuat (kayika),
berbicara (wacika), dan berpikir (manacika) yang baik.
Agama-agama dogmatik sangat menekankan
pada iman yang harus diyakini secara bulat. Pemeluk agama jenis ini bisa
mengatakan: “Percayalah, atau masuklah agama kami, maka kalian akan selamat dan
masuk sorga”.
Tetapi Hindu sebagai agama yang
berdasarkan dharma, akan selalu menekankan pada perilaku yang baik dalam
berbuat, berkata, maupun berpikir. Seorang Hindu Hebat akan senantiasa
menganjurkan: “Lakukanlah perbuatan, perkataan, dan pemikiran yang baik, maka
kalian akan selamat.” Mereka bersifat sangat eksklusif, merasa memonopoli
kebenaran, mempunyai kecenderungan untuk menaklukkan, menguasai, dan
mengendalikan. Sebagai konsekuensinya, disadari atau tidak, sering menganjurkan
kebencian. Dari kebencian lahir kekerasan terhadap orang-orang beragama lain.
Sebaliknya pemeluk sanatana dharma
menyatukan keyakinan, ibadah, dan perilaku yang tercermin dalam kehidupan
sehari-hari. Prinsip yang jelas, Hindu mengajarkan bahwa dosa-dosa dalam
kehidupan tidak dapat dihapuskan hanya dengan kepercayaan dan ibadah saja,
namun harus pula diimbangi dengan perilaku dharma. Bagaikan sinar matahari yang
terik, maka bila ada hembusan angin dan awan, teriknya tak terasa, demikianlah
dosa yang telah tertutup oleh dharma.
Ajaran Veda dalam Hinduism yang demikian
humanis membuat Hindu menjadi agama terbesar di dunia, karena ia melayani
keperluan setiap manusia, apapun suku, bangsa, dan agamanya. Ia tidak hanya
sekedar suatu agama, tetapi ia adalah jalan spiritual dan cara hidup.
Veda adalah wahyu Tuhan kepada umat
manusia karena itu ajaran-ajarannya akan hidup sepanjang masa. Veda
memberikan jalan yang terbuka bagi umat manusia yang ingin mencapai kebahagiaan
lahir bathin dalam pola hidup sederhana namun berpikiran tinggi dan mulia, atau
populer dengan istilah: “simple living high thinking”. Veda tidak menginginkan
umat manusia bertindak hanya di atas landasan keberadaan tubuh (just on the
bodily platform of existence), tetapi Veda lebih menekankan pada tendensi
kesehatan spiritual.
Dari aspek spiritual yang sehat akan
terwujudlah emosional yang sehat, serta intelegensial dan physical yang sehat
pula. Ajaran Veda yang mulia ini banyak dikutip oleh psikolog terkemuka dengan
istilah: “living healthy” sebagai kondisi mutlak bagi kesehatan yang menyeluruh
bagi umat manusia.Tanpa disadari, umat Hindu telah memiliki sesuatu yang sangat
bernilai, sangat mulia, dan kekal-abadi.
Kita telah mempunyai prinsip-prinsip
jati diri yang tiada taranya. Sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa dengan
berpedoman pada prinsip-prinsip ajaran Veda, masyarakat Hindu dapat mencapai
mokshartam jagaditaya ca iti dharmah. Lihatlah Nusantara di zaman keemasan
Majapahit dengan rajanya Tribuwana Tunggadewi sampai Hayam Wuruk; Bali di zaman
keemasan Kerajaan Gelgel dengan rajanya yang terkenal Dalem Waturenggong sampai
Dalem Seganing. Sejarah pula membuktikan bahwa kerajaan-kerajaan yang pernah
berjaya itu memudar dan akhirnya runtuh, karena rakyat dan para pemimpinnya
kehilangan jati diri ke-Hindu-an.
Ajaran-ajaran Veda banyak ditinggalkan
atau dimanipulasi untuk kepentingan sesaat; para Pendeta dan kelompok
rohaniawan tidak mendapat kedudukan yang wajar serta petuah-petuahnya tak
dihiraukan. Penyimpangan-penyimpangan perilaku masyarakat makin lama makin
meluas seiring dengan kemajuan iptek dan informasi.
Jaman bergulir menuju kaliyuga, di mana
masyarakat mengalami kemajuan yang pesat dalam aspek-aspek material namun
semakin miskin dalam aspek spiritual. Masyarakat yang dinamis ini terperangkap
pada masalah-masalah keduniawian.
Era globalisasi mempersempit dunia dan
menjadikannya tanpa batas, dalam artian informasi apapun yang ada, baik di
bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya, segera berpengaruh ke seluruh
dunia.
Ciri utama globalisasi adalah perubahan yang sangat
cepat dalam segala bentuk tatanan dan nilai-nilai kehidupan, sehingga
disimpulkan bahwa barang siapa yang tidak mengikuti perubahan akan tertinggal,
bahkan tergilas oleh zaman. Masyarakat yang hidup dalam dunia global harus
memiliki kekuatan untuk melanjutkan kehidupan dan kekuatan untuk berubah. Ke
manakah arah perubahan itu, dan sudahkah diutarakan dalam kitab suci Hindu? Pandangan
Hindu memberikan ruang bagi perubahan-perubahan yang esensial. Kitab Parasara
Dharmasastra 1.33 menyebutkan:
YUGE YUGE CA YE DHARMAS TATRA TATRA CA YE DVIJAH,
TESAM NINDA NA KARTTAVYA YUGA RUPA HI TE DVIJAH
Aturan dan etika yang berlaku pada
setiap zaman selalu berbeda; kaum cendekiawan yang memimpin perubahan
masyarakat di suatu zaman tertentu tidak bisa disalahkan karena sesungguhnya
dari perubahan itulah suatu zaman terwujud.
Walaupun demikian, perubahan yang
dimaksud dalam kitab-kitab suci Hindu, tetap mengingatkan bahwa ajaran Veda
tidak membolehkan pelanggaran dharma, dan senantiasa menganjurkan kedamaian,
kerukunan hidup bermasyarakat, menghindari ketegangan, dan mencegah konflik.
Meski prinsip-prinsip dharma mengandung
kebenaran hakiki sehingga ia dinamakan sanatana dharma, tetapi
peraturan-peraturan mengalami perubahan dari masa ke masa karena merupakan
produk waktu dan juga akan selalu digantikan oleh waktu. Oleh karena itu dharma
tidak dapat diidentikkan dengan institusi-institusi tertentu. Dharma tetap
bertahan karena berakar pada kealamiahan manusia dan akan tetap hidup abadi. Metoda
dharma adalah metoda perubahan eksperimental. Semua institusi adalah
eksperimen, bahkan kehidupan ini adalah eksperimen.
Manusia sebagai agent of development
tidak dapat mentransfer kebiasaan-kebiasaan dari suatu masa ke masa yang
lainnya begitu saja, tanpa mengadakan perubahan dan penyesuaian. Gagasan-gagasan
moral mengenai hubungan-hubungan sosial tidak bersifat absolut, tetapi bersifat
relatif terhadap kebutuhan dan kondisi dari jenis masyarakat yang berbeda.
Walaupun dharma bersifat kekal, tetapi ia tidak mempunyai isi yang absolut
sehingga mampu menembus batas waktu.
Satu-satunya yang kekal dengan moralitas
manusia adalah hasrat manusia untuk menjadi lebih baik. Akan tetapi waktu dan
kondisi yang menentukan ‘apa yang lebih baik’ dalam setiap situasi.
Bentuk-bentuk tindakan dianggap baik
atau buruk pada tahapan peradaban manusia berbeda, bergantung apakah itu
meningkatkan atau menghambat kebahagiaan manusia. Suatu bangsa yang maju akan
senantiasa mampu memberikan makna bagi pegalaman-pengalamannya di masa lalu.
Prinsip-prinsip dharma dalam skala nilai harus dipertahankan di dalam dan
melalui tekanan-tekanan pengalaman baru.
Hanya dengan jalan itu akan terbuka
kemungkinan untuk mencapai kemajuan sosial yang integral dan seimbang. Kaum
intelektual Hindu harus mampu memperkenalkan perubahan-perubahan, mengelola
sedemikian rupa sehingga membuat Hindu-Dharma relevan pada situasi-situasi
modern.
Masyarakat yang maju dalam iklim
perubahan akan tercapai bila kondisi ideal yang ingin dicapai lebih baik dari
kondisi aktual. Artinya pemikiran-pemikiran cemerlang dari kaum intelektual
mampu membuahkan gagasan baru, inovasi dan kreasi, baik dalam iptek maupun
dalam tatanan sosial. Mereka hendaknya selalu berorientasi pada pelayanan
masyarakat dengan integritas intelektual.
Berbekal pada pemahaman uraian di atas,
jika melihat situasi dan kondisi umat Hindu di Bali dewasa ini, maka wacana
“Ajeg-Bali” sangat patut dilontarkan ke tengah-tengah masyarakat yang tak luput
dari pengaruh-pengaruh globalisasi baik yang sifatnya positif, maupun yang
negatif.
Pada tataran individu, Ajeg-Bali
dimaknai sebagai kemampuan manusia Bali untuk memiliki cultural confidence,
yaitu keyakinan untuk memegang keteguhan jati diri yang bersifat kreatif
meliputi segala aspek, dan tidak hanya terpaku pada hal-hal fisikal semata. Pada
tataran lingkungan budaya, Ajeg-Bali dimaknai sebagai terciptanya ruang hidup
budaya Bali yang bersifat inklusif, multi kultur dan selektif terhadap
pengaruh-pengaruh luar.
Pada tataran proses kultural, Ajeg-Bali
adalah interaksi manusia Bali dengan ruang hidup budaya Bali untuk melahirkan
produk-produk atau penanda-penanda budaya baru melalui sebuah proses
berdasarkan nilai-nilai moderat, non dikotomis, berbasis pada kearifan lokal
serta memiliki kesadaran lingkungan di saat yang tepat.
Dari ketiga tataran di atas, disepakati
bahwa Ajeg-Bali bukanlah suatu konsep yang stagnan, melainkan sebuah upaya
pembaharuan terus menerus yang dilakukan secara sadar oleh manusia Bali.
Tujuannya jelas untuk menjaga identitas,
jati diri, ruang, serta proses budaya Bali. Upaya ini akan bermuara pada
peningkatan kekuatan manusia-manusia Bali agar tidak jatuh di bawah penaklukan
hegemoni budaya global. Ajeg-Bali bukanlah sebuah proses involusi, tetapi
sebuah proses evolusi yakni pengembangan dan kreasi dari keunggulan-keunggulan
local-genius, kearifan, pengetahuan tradisionil yang dilandasi oleh sanatana
dharma sehingga terjadi pelestarian yang dinamis. Dengan demikian Bali yang
ajeg akan muncul sebagai sebuah keunggulan budaya yang sanggup bertahan dan
bersaing dalam dunia global.

Komentar
Posting Komentar