Hindu di Bali
Tidak lama ini saya baru selesai membaca sebuah buku
karangan Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A. dengan judul "Genealogi
Keruntuhan Majapahit - Islamisasi, Toleransi, dan Pemertahanan Agama Hindu di
Bali". Saya tertarik dengan judulnya yang tidak saya pahami pada awalnya.
Apa hubungannya Keruntuhan Majapahit dan Islamisasi? (hal ini tentu sudah kita
dapat ketika belajar sejarah di jenjang sekolah tapi latar belakang, motivasi,
dan apa yang sebenarnya terjadi masih belum dapat terkuak bila hanya mengandalkan
pelajaran di sekolah) Toleransi apa yang terjadi ketika proses Islamisasi
berlangsung? Bagaimana agama Hindu bisa bertahan ditengah gempuran kegiatan
keagamaan (invansi bersifat agama) yang lain?
Tentunya sebagai pembaca yang bijak kita harus bisa
menyingkirkan pandangan-pandangan yang bersifat egosentris, etnosentris, dan
bahkan pandangan keagamaan yang cenderung menutup diri. Karena pengarang
menulis buku ini dengan banyak latar belakang dan sudut pandang sebagai seorang
peneliti sejarah dan pemerhati budaya. Tidak ada motif pribadi baik berupa
etnis dan kepercayaan (agama) di dalam buku ini. Pengarang sama sekali tidak
berusaha meng-Hindu-kan pembacanya. Buku ini murni hanya sebagai kajian ulang
sejarah terhadap runtuhnya Majapahit sebagai Kerajaan Hindu terbesar dan
pentingnya keberadaan Bali sebagai mungkin satu-satunya pewaris Kerajaan
Majapahit. Bali sebagai pusat kebudayaan Agama Hindu di Indonesia perlu
mengukuhkan kembali eksistensinya dan sebagai duta pariwisata Indonesia pulau
Bali perlu menata dirinya kembali.Hindu hebat karna apa? Karna tradisi hindu di
bali yang banyak menarik para wisatawan untuk datang ke bali.
Buku ini membahas apa yang sebenarnya terjadi pada
Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan yang besar dan hampir
seluruh Asia Tenggara telah ditaklukan serta semua wilayah jajahannya tunduk
dan patuh pada panji-panji kebesaran Kerajaan Majapahit. Sangat tidak mungkin
bila kerajaan sebesar Majapahit runtuh begitu saja. Pemberontakan
kerajaan-kerajaan kecil yang berusaha membelot sudah tentu menjadi sangat mudah
untuk dipatahkan. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Meminjam kutipan dari
William Durrant dari buku beliau yang berjudul The Story of Civilization bahwa
“a great civilization is not conquered from without until it destroy itself
from within” sebesar apapun sebuah kebudayaan ketika dirongrong dari dalam maka
akan runtuh juga. Kita juga bisa mengasumsikan sebuah kelompok masyarakat yang
kuat akar kebudayaannya tidak akan terganggu oleh masuknya invansi bentuk
kebudayaan lain. Hal inilah yang ingin dicapai oleh masyarakat Bali. Yang
terjadi pada Kerajaan Majapahit adalah memudarnya eksistensi kewibawaan
pemimpin-pemimpin Majapahit, tidak ada pengganti yang lebih berwibawa setelah
Patih Gajah Mada, kita sudah secara diam-diam menyepakati hal ini, pemerintahan
yang korup, kehilangan eksistensi kebudayaan karena proses islamisasi yang
dibawa oleh pedagang-pedagang muslim serta karena upaya kristenisasi yang
dilakukan penjajah dari bangsa Eropa yang mengusung 3G (Gold, Glory, Gospel)
pada tiap kegiatan invansinya. Semua hal tersebut terangkai melingkar menjadi
satu dan perlahan membinasakan identitas Kerajaan Majapahit.
Yang terjadi pada Bali masa kini sudah hampir
mendekati apa yang telah terjadi pada Majapahit. Sebagai poros pariwisata
Indonesia sudah pasti bahwa Bali akan menyambut kehadiran berbagai jenis dan
model masyarakat yang mengusung kebudayaan masing-masing. Bahkan tidak menutup
kemungkinan kelompok-kelompok masyarakat tersebut akan “menciptakan” terjadinya
proses asimilasi dan akulturasi. Hal inilah yang dialami oleh Majapahit.
Sebagai kerajaan yang bergantung pada maritim dan perdagangan Majapahit adalah
surganya para pedagang, para pendakwah agama (masyarakat Indonesia pada masa
itu masih banyak menganut animisme dan dinamisme sehingga menjadi sasaran para
pendakwah dan penyiar agama) dan para pencari kepuasan hedonis. Perairan
Indonesia yang menjadi jalur utama pelayaran dan perdagangan sudah tentu
menjadi daya tarik bagi masyarakat di luar Indonesia. Masuk melalui ujung
Sumatera semua akan berlabuh menuju Jawa dan berhenti serta menetap di
Majapahit. Kembali merujuk pada Bali, Bali sebagai pulau kecil yang dikelilingi
kepulauan dengan berbagai macam adat harus bertahan. Bahkan di lingkungan dalam
pun Bali sudah mulai ter”invansi” dengan kebudayaan-kebudayaan yang dibawa oleh
turis-turis baik lokal maupun internasional.
Jika Bali sebagai poros kebudayaan agama Hindu di
Indonesia terseret dalam arus globalisasi seperti sekarang ini sangat
dipastikan keruntuhan Majapahit akan terulang untuk kedua kalinya. Bedanya
keruntuhan kali ini berupa keruntuhan budaya dan identitas kebudayaan bukan
keruntuhan kekuasaan.
Bagaimana Bali bisa bertahan sejauh ini? Bagaimana
adat Hindu di masyarakat Bali tidak lenyap ditengah “peperangan” agama yang
kerap terjadi di Indonesia? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya
satu, yakni toleransi. Sebagai salah satu pusat agama tertua, Bali memilih
untuk bersikap netral dan memberi toleransi seluas-luasnya terhadap pendatang
beserta kebudayaannya. Seluas-luasnya namun tetap memiliki batasan yang telah
diatur dalam hukum adat masyarakat Bali. Sebagai tempat tujuan wisata Bali
harus memilih bertahan dan netral. Hal ini telah terjadi sejak
bangsawan-bangsawan Majapahit berpindah ke Bali. Mereka memilih untuk bersikap
netral ditengah gempuran islamisasi dan kristenisasi. Tidak ada gunanya melawan
ekspansi dan invansi kerajaan-kerajaan Islam seperti Kerajaan Demak, Samudera
Pasai, dan banyak lagi. Tidak ada gunanya juga melawan VOC yang notabene
memiliki kekuatan armada yang jauh lebih unggul. Mereka memilih untuk mundur,
diam, dan bertahan tetapi tidak ada niatan untuk menyerang entah kapanpun itu.
Karena mereka memiliki tujuan yang jelas, yakni mempertahankan Bali sebagai
pewaris Kerajaan Majapahit serta sebagai model dan bentuk masyarakat Hindu yang
masih bersinergi hingga sekarang. Hindu bagi masyarakat Bali sudah bukan hanya
menjadi identitas agama namun telah bertransformasi menjadi gaya hidup dan
landasan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan. Hindu Telah menjadi warisan
tertua bagi bangsa Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia yang turut serta
memiliki Bali mari bersama kita membantu usaha para leluhur kita dalam
mempertahankan kebudayaan. Bukan dalam agama melainkan atas nama kebudayaan.
Jika Bali hilang apalagi yang mampu kita banggakan?

Komentar
Posting Komentar